Posted by Francisca Oviana LYDIA on Mar 6, '08 12:22 AM for everyone

Teman-teman,

Saya menemukan artikel yang bagus menurut saya dari group Komunitas Katolik Indonesia yang di posting oleh seorang anggota dari group itu.

Setelah saya baca isinya, ternyata menarik sekali untuk  dijadikan bahan renungan.

Sebelumnya saya pernah menemukan beberapa site yang isinya menjelek2kan agama tertentu, karena mungkin menurut yang menulisnya dia adalah yang terbaik. Dan menurutnya dengan berbuat seperti itu pasti akan masuk surga, tapi sebenarnya ternyata tidak, karena selain  beribadah di rumah Tuhan harus disertai dengan perbuatan  yang menentukan bisa masuk surga atau tidak….

Semoga setelah membaca renungan ini bisa membuat pandangan lebih jauh ke depan, tidak picik, dan berusaha untuk toleransi dengan sesama dalam hal apa pun. Berusaha untuk tidak menyakiti hati orang lain dengan mengumbar kekurangan seseorang, hanya karena  merasa bahwa diri sendiri adalah yang terbaik dari orang lain.

Dan kata-kata yang diucapkan oleh Cak Nun ini, bisa  dijadikan pertimbangan walau pun beliau seorang muslim, tapi pemikiran beliau itu luas sekali.....

Dan terima kasih untuk Anjar yang telah memposting artikel ini di group Komunitas Katolik Indonesia….

 

Gusti Allah Tidak Ndeso

By: Emha Ainun Nadjib

 

Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun.

Cak Nun,” kata sang penanya.

Misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu, pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?”

Cak Nun menjawab lantang, “Ya, nolong orang kecelakaan.”

Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?” kejar si penanya.

Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu,” jawab Cak Nun.

Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak. Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi.

Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang.”

Kata Tuhan, “Kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu. Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.”

Seraya bertanya balik, Emha berujar, “Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara. Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan. Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?”

Kalau saya,” ucap Cak Nun.

Memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya. Itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran. Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa.

Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama. Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.

Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.

Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial.

Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh'afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.”

http://katolikindonesia.multiply.com/journal/item/23/Emha_Ainun_Najib_Gusti_Allah_Tidak_Ndeso




f1do wrote on Mar 6, edited on Mar 6
TUHAN YESUS KRISTUS BERKATA:
"Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaanNya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaanNya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapanNya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kananNya dan kambing-kambing di sebelah kiriNya. Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kananNya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh BapaKu, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu merawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku."
(MATIUS 25:31-36)
sienaviena wrote on Mar 6
f1do said
TUHAN YESUS KRISTUS BERKATA:
"Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaanNya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaanNya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapanNya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kananNya dan kambing-kambing di sebelah kiriNya. Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kananNya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh BapaKu, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu merawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku."
(MATIUS 25:31-36)
Benar sekali Freedi, thanks ya atas kutipan ayat2 ini...

God bless you always....
samaranch99 wrote on Mar 6
Semacam cerita orang Samaria yang baik hati. Tfs.
sienaviena wrote on Mar 6
Semacam cerita orang Samaria yang baik hati. Tfs.
Iya Ko...Kata2nya bagus untuk renungan....
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help