Posted by Francisca Oviana LYDIA on Jan 1, '08 3:04 AM for everyone

RIWAYAT SANTA EMERENTIANA


Sang surya menaiki gelanggangnya, menyebarkan nyala cahayanya ke atas muka bumi yang baru terjaga. Rupanya gunung-gunung lebih tinggi menembus langit, sedangkan pohon-pohon di hutan lebih jauh merentangkan dahannya akan menyambut salam raja siang cemerlang. Pun tebing bukit di pantai teluk Gaeta mandi dalam sinar matahari pagi. Seakan-akan mengadakan pameran gugus-gugus anggur yang berjuntai-juntai di antara daun-daunan hijau lagi lebat. Dan di tengah-tengah permadani indah segar itu, membubung lurus kukuh sebuah menara pualam putih. Berkilau-kilauan laksana mutiara pilihan, tersangkut dalam sebentuk kalung zamrud.

Dekat menara itu, tampaklah sebuah villa yang sedang disiapkan untuk kedatangan tuannya. Beberapa pelayan sibuk bekerja akan membersihkan halaman yang luas lagi bagus. Di kebun orang sedang membabati rumput, menyiangi petak-petak bunga, merantingi semak-semak. Seorang mandor berjalan kian ke mari akan memeriksa mana yang kurang. Pintu belakang pada tembok yang mengelilingi villa itu terbuka. Seorang gadis menjenguk lalu mengundang ke arah mandor itu berdiri.

“Pa, Agnes datang?” serunya.

Mandor itu menoleh, “Ya, Agnes akan datang. Kau senang?” tanya bapanya sambil menepuk pipi Emerentiana.

“Senang sekali!” seru Emerentiana dengan gembira.

Kakinya bergerak cepat-cepat, tangannya dikembangkannya seakan-akan hendak menari. Bapanya tersenyum.

“Baiklah, sekarang petikkan bunga yang panjang tangkainyal”

Emerentiana sudah lari ke kebun yang letaknya di belakang tembok, sedangkan rambutnya yang dijalin itu melambai-lambai pada punggungnya. Siang hari tibalah keluarga bangsawan dari Roma. Dua kali setahun mereka beristirahat ke villa putih itu. Dan menurut anggapan Emerentiana, itulah masa yang paling menyenangkan.

Tiada heran juga! Agnes sebaya dengan dia, seperti adiknya sendiri. Ketika Agnes baru lahir, ibunya jatuh sakit. Sebab itu bertahun-tahun lamanya ia tinggal di villa putih itu akan mengambil hawa sejuk. Maka ibu Emerentianalah yang mengasuh Agnes kecil bersama-sama dengan Emerentiana. Demikian pertalian persaudaraan mengikat kedua gadis itu sejak dari kecil. Keesokan harinya pagi-pagi, Agnes dan Emerentiana telah bersukaria di kebun.

“Mengapa ayahmu membuang segala patung dari tembok itu Agnes,” tanya Emerentiana.

“Keindahan Villa patung putih lenyap kini.”

“Karena benda-benda itu tiada berguna sama sekali. Dan keindahannya lenyap? Mungkin, tapi hanya untuk sementara. Lihatlah, Emerentiana, tanaman pakis sepanjang tembok tumbuh. Jika rumpun pakis itu telah besar, Villa kita akan lebih elok juga rupanya. Namanya pun akan diganti Villa pakis hijau kelak.”

“O ya itu menarik pula,” seru Emerentiana.

“Dan tahukah kau artinya?” tanya Agnes pula.

“Adakah artinya?” sahut Emerentiana keheranan.

“Tentu saja, semua yang diam di villa pakis ini harus sanggup mencapai lambang kemenangan abadi.”

“Kemenangan abadi?” Emerentiana ternganga.

“Ya, mengapa tidak?” sahut Agnes .

“Kenalkah kau mahkota daun lambang kemenangan?”

Emerentiana mengangguk.

“Nah, demikian daun pakis melambangkan kemenangan aba­di!”

Mata Emerentiana memandang jauh ke muka. Entah meng­apa, terasa olehnya bahwa ada sesuatu yang menceraikan dirinya dari diri Agnes.

“Sebenarnya lebih baik bagimu jika kau turut ke Roma, Emerentiana! Di sana dapatlah kau belajar sedikit-sedikit,” kata Agnes bermaksud melipur, karena adiknya nyata bermurung sedikit.

“Ke Roma!” Mata Emerentiana bersinar-sinar pula.

Sesaat kemudian telah berubah lagi raut mukanya.

“Biarlah aku menemani bapa di villa yang sunyi ini, Agnes,” jawabnya.

Ketika itu terdengarlah bunyi lonceng tanda penghuni villa diharap datang ke ruang makan. Maka berlari-larian kedua gadis itu menuju ke tangga serambi    

Beberapa tahun berselang, dan Emerentiana setelah kematian bapanya, pindah juga ke kota Roma. Keluarga bangsawan yang ternama itu menerima kedatangannya dengan sepenuh senang hati. Sedapat-dapatnya mereka berusaha akan membalas budi pelayannya yang setia itu dengan memperlakukan anak mereka dengan baik.

Bersama-sama Agnes, Emerentiana pun dapat melatih bakat-bakatnya. Agnes sendiri menolong adiknya agar dapat lekas pandai dalam ilmu membaca dan menulis. Dan Emerentiana dapat berbahagia pula, dapat melupakan kesedihan hatinya, dapat memandang ke hari depan dengan penuh pengharapan. Teranglah sekarang baginya apa yang selama itu dapat memisahkan batinnya dengan batin Agnes.

Keluarga bangsawan yang dikenalnya dari kecil, yang diabdi oleh ibu bapanya almarhum dengan sepenuh senang hati, mereka pengikut Kristus rupanya! Emerentiana telah mendengar dari orang-orang bahwa agama pengikut Kristus sangat membahayakan masyarakat Romawi. Karena itu ia mulai berhati-hati, agar dapat lepas dari ancaman bahaya itu.    

Karena gadis itu baru saja faham membaca dan menulis, ia sangat gemar akan menyelidiki kepandaiannya. Buku apa saja yang dilihatnya, sudah tentu dibacanya juga. Pada suatu pagi terang cuaca, duduklah Emerentiana dekat pancuran di kebun, asyik membaca. Diam-diam Agnes mendekatinya.

Sambil menutup bacaan itu dengan tangannya yang halus Agnes berkata, “Jangan kaubaca buku ini, Emerentiana. Percayalah, isinya kurang baik bagimu. Siapakah yang memberinya kepadamu?”

“Dapatkah isi buku merugikan diriku?” sahut Emerentiana berseloroh.

“Memang, tidak semua perbuatan baik yang diuraikannya, tapi apa salahnya membaca asal saja kita sendiri tak berbuat begitu.”

Agnes bermurung, “Yang dibayangkannya hina, yang kau pikirkan dosa,” sahutnya bersungguh.

“Jadi menurut anggapanmu kita bertanggung jawab atas fikiran kita?” seru Emerentiana terperanjat.

“Kepada siapa? Siapa yang dapat menerka pikiranku?”

“Tuhan,” jawab Agnes dengan pendek.

Emerentiana tertawa kini!

“Yupiter atau Minerva yang akan mengadili aku?”

“Yang Maha Esa, yang tak terbatas. Pencipta yang sanggup memelihara atau membinasakan mahlukNya.”

Gelak Emerentiana makin hebat, “Masakan yang kau sebut Maha Esa sudi memboroskan waktu dengan menyelidiki jalan fikiranku!”

“Itu bukan memakan waktu bagiNya, seperti terang matahari pun tak memerlukan waktu untuk memeriksa semua benda di tempat-tempat yang telah terkena sinarnya, kerikil di dasar pancuran dan mawar di sebelahmu itu. Yang indah mau pun yang buruk terkejar olehnya pada saat yang bersamaan juga.”

Emerentiana mengarahkan pandangannya ke air pancuran seolah-olah mencari buktinya.

“Teorimu selalu bagus, Agnes, seperti benar bunyinya. Namun betapa beratnya beban hidup yang harus kita pikul, jika kita selalu diamat-amati oleh mata yang lebih berkuasa dari matahari itu! Sang Surya tak dapat menembus fikiran batinku.”

Pandang Emerentiana agak gelisah ketika itu. Budinya yang halus sedang bertempur dengan sanubarinya yang merasa terancam. Beberapa saat tiada yang berkata, sebab itu merdu terdengar kicau burung di pohon.

“Hari ini kau membukakan pengetahuan baru yang belum pernah kudengar, Agnes!” kata Emerentiana bagai bermimpi.

“Namun, bukankah Dia teramat tinggi, teramat jauh dari sinil”

“Bahkan sebaliknya adalah benar, Emerentiana! Kita ada di dalamNya sebagai kita ada di dalam terang siang. Segala sesuatu yang kita katakan, pun keinginan hati kita selalu bergema pula dalam keluasan Hati IlahiNyal”

“Tapi,” tanya Emerentiana antara takut dan berani.

“Tiadakah suatu tanda pembaktian terhadapNya seperti yang dilakukan orang untuk menghormati para dewa?”

Kini Agnes yang berhati-hati. Meski demikian, lambat laun percakapan menyelami beberapa upacara Gereja Suci yang pada zaman itu hanya diuraikan kepada mereka yang telah menjadi pengikutnya, “O, tentu ada! Ada sebuah Kurban. Kurban itu harus patut dipersembahkan, harus tiada bercela, murni, Mahamulia dan Mahaluhur.”

“Dan apakah kurban itu?” seru Emerentiana makin berhasrat ingin mengetahui hal yang sesulit itu.

Agnes menarik nafas panjang lalu ujarnya, “Tiada lain daripada Tuhan sendiri.”

Emerentiana terlonjak, menutupkan mukanya dengan kedua belah tangannya. Kemudian berdiri dengan tak mengindahkan bukunya yang jatuh. Matanya membayangkan kesedihan.

“Aku yakin, bahwa kau tidak berdusta, Agnes. Tapi, betapa ajaib hal ini. Maafkan aku, sungguh letih rasa badanku!”

Perlahan-lahan gadis itu menuju ke arah biliknya, sedangkan Agnes memungut buku tersebut. Di balik-baliknya beberapa kali sambil tersenyum.

“Memang, dari yang tak senonoh pun Tuhan dapat menarik kesimpulan yang baik bagi mereka yang cinta kepadaNya!” bisiknya.

Agnes maupun Emerentiana tiada pernah melanjutkan lagi percakapan dekat pancuran di kebun. Seperti sediakala Emerenti­ana senantiasa berbakti. Hanya pengertiannya mendalam. Kini mengertilah ia betapa senangnya seisi rumah jika waktu mereka terluang pada pagi hari.

“Mungkin bersangkut paut dengan kurban ajaib itu!” pikirnya.

Maka pada suatu pagi tampaklah gadis itu dekat pjntu gerbang muka. Sungguh senang pula Emerentiana pada waktu yang sunyi itu! Hawa sejuk melukiskan warna merah jambu pada pipinya. Angin sepoi-sepoi basa menyebarkan wangi-wangian yang harus semerbak dari kelopak bunga-bungaan yang lebar terbuka. Tapi yang tak disangka-sangka terjadi. Suatu ketika masuklah seorang melalui pintu terbuka. Rupanya seorang saudagar yang sudah lazim datang ke sana.

“Hai, siapa namamu?” tanyanya.

“Saya Emerentiana, adik pungut puteri Agnes.”

“Kamu pun penganut Kristus?” Matanya yang tajam mengamat-amati gadis itu.

“Bukan, tuan,” sahut Emerentiana.

Tapi apakah gerangan maksud tuan?”

“Maksudku mencari bukti. Kata orang penghuni rumah ini hidupnya berlainan sekali. Jarang melancong, jarang………”

“Serupa pujian bunyinya.” seru Emerentiana memutuskan kalimat saudagar itu.

Waktu itu terdengar langkah dan tampaklah pula sosok serdadu kawal yang kukuh besar. Dengan tiba-tiba saja saudagar tersebut tegak berpaling dan keluar lagi ke jalan raya.

“Hendak apa mata-mata jahanam itu?” tanya serdadu kawal kepada gadis yang masih tercengang-cengang itu.

“Entah, untung aku dapat menjawab bahwa aku bukan penganut Kristus,” sahut Emerentiana.

“Itu bukan untung!” jawab si pengawal pula sambil menarik bahu.

Emerentiana masuk akan makan. Dan untuk pertama kalinya ia merasa sedih karena belum bersatu dengan seisi rumah.

“Mengapa engkau diam-diam saja, Emerentiana? Susahkah engkau?” tanya Agnes lemah lembut.

“Bukakan jalan bagiku, agar aku dapat mengabdi yang Maha Esa, Agnes,” bisik Emerentiana sambil menghapus air mata yang telah meleleh ke pipi.

“Mulai besok kita akan belajar, Emerentiana,” seru Agnes bergembira.

Pohon-pohon sepanjang jalan sedang berkembang, kebanyakan memutih sebagus-bagusnya. Namun orang-orang yang berkerumun di bawahnya sekali-kali pun tak mengindahkan kemolekan musim semi itu. Perhatian mereka semata-mata tertarik suatu peristiwa yang mengerikan.

Sebuah tandu, terhias tirai sutera halus lengkap berperisai telah dimuati jenazah seorang martir. Darahnya yang berditik-ditik menetes ke tanah dikumpulkan dalam sejenis botol penuh hormat bercampur cinta. Seorang wanita bangsawan menjagainya dan menutupi badan martir itu dengan mantelnya sendiri.

Tiba-tiba pagar manusia itu mundur. Seorang gadis meniarap di hadapan tandu itu sambil tersedu-sedu.

“Syukurlah kau datang, Emerentiana, marilah kita menghantarkan Agnes pulang untuk penghabisan kalinya,” kata wanita bangsawan itu sambil memeluk anak yang berduka itu.

Sejak hari itu Emerentiana tak pernah melampaui satu hari pun untuk mengunjungi makam Agnes.

“Rupanya kau pun telah dipengaruhi agama keparat itu. Ayo turut, teman-teman yang lain segera akan tiba.”

“Sungguh, aku tak mau turut, hatiku masih berkabung.”

“Berkabung karena Agnes? Betapa piciknya anggapanmu itu. Dia penganut Kristus dan …….”

“Aku pun percaya akan Kristus,” seru Emerentiana. Lalu ia berjalan terus.

Mula-mula temannya terkejut, kemudian mengerenyitkan dahinya. Matanya memancarkan cahaya kejam ......... Sementara itu

Emerentiana menuju ke makam Agnes. Tiba di makam martir muda itu, gadis Emerentiana berlutut, asyik berdoa. Tidak tampak olehnya bahwa temannya dan beberapa pemuda diam-diam seakan-akan mengejarnya.

Sekonyong-konyong berdesislah sebuah benda di udara. Sebuah batu besar bundar jatuh,   tepat  di sisinya.   Emerentiana

Menoleh, ….. malang! Batu yang lain melukai dahinya…… Emerentiana pening dan jatuh. Hujan batu menghebat, disertai sorak sorai teman-temannya dan pemuda-pemuda itu yang telah menjelma menjadi musuh.

Sejam kemudian mereka meninggalkan tempat pembunuhan itu. Emerentiana telah berpulang, sebelum dipermandikan. Tuhan telah menyediakan baginya upacara permandian darah.

Dekat Agnes, Emerentiana dikubur. Sedangkan pestanya dirayakan pada tanggal 23 Januari. Pertalian yang mengikat dirinya kepada Santa Agnes tak dapat kendur. Semoga pertalian yang mengikat kita kepada para orang suci pun tak kendur.

Santa Emerentiana, doakan mereka yang ingin dipermandi­kan seperti dikau pernah ingin dipermandikan.

 

TAMAT
Siena
Viena 01-01-2008


elisahardi wrote on Mar 26
lyd...aku terharu sekali membaca kisah santa emerentiana ini. namanya tidak perna aku kenal sebelumnya. tapi kisahnya sungguh2 mengharukan. persahabatan yg sejati memang tidak dapat dipisahkan oleh apapun juga. walaupun seberapa jauhnya dan keadaan kita seperti apapun tapi hati mereka selalu dipertemukan dan disatukan kembali oleh Tuhan.
terima kasih ya, engkau mau menjadi temanku...^_^..
sienaviena wrote on Mar 26
lyd...aku terharu sekali membaca kisah santa emerentiana ini. namanya tidak perna aku kenal sebelumnya. tapi kisahnya sungguh2 mengharukan. persahabatan yg sejati memang tidak dapat dipisahkan oleh apapun juga. walaupun seberapa jauhnya dan keadaan kita seperti apapun tapi hati mereka selalu dipertemukan dan disatukan kembali oleh Tuhan.
terima kasih ya, engkau mau menjadi temanku...^_^..
Iya benar sekali Lis, susah sekali mencari sahabat yang bisa seperti itu... Sahabat sejati bisa kita temukan pada saat kita susah dia ada bersama kita, walau pun jauh, tapi dia ada untuk kita.... tidak meninggalkan kita....

Sama2 Lis, Lyd senang juga kamu mau jadi teman lyd...Semoga persahabatan kita bisa kekal sampai selamanya ya... Thanks juga untuk kamu ya.....
audrydien64 wrote on Mar 26
Persahabatan sejati yang indah...

T4S dede sayang

luv always, muahhhhh
sienaviena wrote on Mar 26
Persahabatan sejati yang indah...

T4S dede sayang

luv always, muahhhhh
Benar sekali Sis Audry...sekali pun dipisahkan oleh maut, tetap persahabatan itu tidak hilang.....

Luv always too, mmuuuaaahhh
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help